Langsung ke konten utama

Maju Tambasanya, Bahagia Etosernya

"Kita terlalu jauh mencari cahaya, namun ternyata cahaya itu begitu dekat; Cahaya itu selalu bersama kita, di dalam diri Kita" (Kartini, 1902)
Kutipan dari Buku Habis Gelap, Terbitlah Terang ini patut menjadi perhatian khusus bagi kita. Orang-orang yang telah tergerak untuk mengabdi ataupun belum. Karena sejatinya, kita akan memperoleh titik kesadaran untuk mengabdi dan berbuat lebih banyak untuk orang lain. Namun yang membedakan, ada yang cepat, ada yang lambat. Ada pula yang keburu wafat terdahulu. Kita bebas ingin memilih berada di posisi mana. Tapi bagi peserta Beastudi Etos Indonesia, kita dipaksa untuk sadar dan peka dengan tagline "Pemuda Kontributifnya". Harapannya terpaksa, menjadikannya terbiasa.

Pagi ini pembinaan pagi yang menjadi rutinitas Beastudi Etos terasa spesial karena khusus  membahas Desa Produktif. Temanya "5 Tahun Tambasa, Tidak ada perubahan". Dari diskusi yang berlangsung, lahir tiga permasalahan utama terkait pengabdian yang dilakukan di Desa Tambasa ;
1. Kurangnya Inovasi Program
2. Partisipasi dan Koordinasi Pengurus Despro dan Masyarakat yang rendah
3. Manfaat Program Kerja yang belum signifikan

Poin permasalahan yang jika terus disesali, hanya akan menjadi penyesalan berlarut-larut sehingga kita hanya bekerja dengan rutinitas tanpa kreatifitas. Bekerja hanya dengan kondisi hati yang rapuh dan ingin cepat-cepat pulang.

Sejak Sekolah Dasar hingga kuliah, kita memang cenderung bertemu dengan konsep rutinitas yang membosankan. Seperti pembelajaran di sekolah hingga kampus yang cenderung monoton hingga aktifitas keseharin yang biasa-biasa saja. Sehingga ketika diajak berbagi dan berkontribusi, karena itu yang menjadi kebiasaan kita, hasilnya konsep "monotonisme" itu berlanjut. Sehingga rutinitas despro hanya menjadi rutinitas tanpa arti yang dalam. Hanya menjadi tempat ngumpul lalu berpisah kembali. Hanya menjadi wadah pengguguran kewajiban sebagai etoser biar tidak kena hukuman. miris. hehe

Kembali kepada kutipan dari buku salah satu tokoh Perempuan berpengaruh di Indonesia, Bunda Kartini. Masalah-masalah yang ada, solusinya ada pada diri kita. Kita hanya perlu mencoba merefleksikan apa saja yang telah kita perbuat dan apa tujuan kita, pengabdian dan Despro Beastudi Etos sedara umum. Dari perenungan yang bisa kita lakukan secara mandiri ataupun bersama-sama tersebut, akan lahirlah resolusi yang merupakan solusi taktis terkait masalah yang ada.

Masalah utama yang hadir diatas mengenai kurangnya Inovasi Program merupakan indikasi dari rutinitas yang perlu kita ubah menjadi rutinitas yang selalu dirindukan. Bisa saja frekuensinya tidak banyak seperti saat ini, namun terbatas dalam waktu tertentu. Tapi benar-benar berkualitas. Kalau istilah kerennya, cobalah berpikir dan bertindak "out of the box" dalam konteks kebaikan tentunya. Ada banyak Teknik yang mampu kita pelajari dari berbagai sumber untuk mewujudkan krativitas dalam program kerja desa produktif. Cara lain yang mampu diwujudkan ialah dengan memperbanyak penggerak dengan turut melibatkan pemuda tambasa lebih banyak dan mahasiswa untuk berkontribusi langsung.

Terkait Partisipasi Pengurus Despro dan Masyarakat yang rendah merupakan potret yang sesungguhnya lumrah kita temui di berbagai organisasi dan tentunya Desa. Kesibukan pribadi dengan berbagai euforia yang menjadi prioritas sehingga  luput dengan aktifitas yang bisa saja jauh lebih baik. Pertanyaaannya, apakah kita mampu menjadi orang yang bisa terus bergerak di kondisi sepi tersebut ? Bukankah ini peluang untuk berbuat baik lebih banyak dan tentunya belajar lebih banyak ? Jika kita tidak merasa demikian, Kapan lagi kita akan berbuat di tengah kesibukan-kesibukan yang akan saling sambung-menyambung ? Cobalah jeda sejenak, kembali ke desa, bangunkan dan majukan desanya.

Kristalisasi dari "monotonisme"program dan partisipasi yang rendah berwujud kepada manfaat Program Kerja yang belum signifikan. Jelas merupakan sebuah keniscayaan bahwa apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Kita menanam yang baik saja, potensi untuk gugurnya tetap ada. Terlebih lagi ketika kita memang tidak menanam. Cobalah untuk berbuat dan menanam lebih, karena semakin banyak yang mampu kita kembangkan disini, maka akan semakin besar harapan yang mampu tumbuh di masyarakat Tambasa dan kita semua. Harapannya setelah ini, bukan hanya Tambasa yang maju. Namun kita mampu memajukan desa kita secara pribadi dan desa-desa lainnya.

Maju Tambasanya, Bahagia Etosernya 

Ini merupakan bagian dari #CitaTertinggi kita semua dalam wadah Beastudi Etos untuk menjadi sebenar-benarnya "Pemuda Kontributif" profil beastudi Etos.




Komentar

Posting Komentar