Kemasan sensasional membalut kemegahan dan keramahtamahan. Tak ada kata gelap, yang ada ialah cahaya yang terus menyorot. Tak ada kata lusuh, yang ada selalu bersih dan rapi. Tak ada kata panas terik, yang ada sejuk nan nyaman. Tak ada ekspresi marah, yang ada kebahagiaan dan senyum yang senantiasa tersaji dari pojok ke pojok. Dibalik layar, ada pencemaran lingkungan yang mengakselerasi pemanasan global. Dibalik layar, ada krisis energi yang senantiasa memaksa negeri kita impor. Dibalik layar, mereka yang berperan senantiasa risih dengan simpul senyum yang harus terus tersaji. Meski penat dan lelah dengan tuntutan tingkah kaku yang berlabel SOP. Begitulah peradaban Mall yang menyajikan peradaban semu. Potret individualisme dalam balutan kapitalisme. Memperluas jarak antara tradisional dan modern, hingga memperluas kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya. Permasalahan yang kompleks ini akhirnya terjawab dengan hadirnya Mall Nipah. Green Building pertama di Indonesia Ti...
Sebagai mahasiswa Statistika, saya mencoba memetakan dan mengukur frekuensi dari 29 pesan dan kesan yang ada. Selanjutnya, saya akan coba menjelaskan lebih lanjut terkait klarifikasi dan tanggapan. Sebagai bentuk jawaban dari permintaan perhatian, evaluasi dan komunikasi dari pesan dan kesan yang ada. Inilah salah satu bentuk perhatian, evaluasi dan komunikasi yang saya berikan. Selamat Menikmati. Sebelumnya, saya ingin menyampaikan Terimakasih kepada mbak Umu dari Manajemen Pusat Beastudi Etos yang telah banyak memberi masukan dan saran. Termasuk dengan memfasilitasi sesi pesan dan kesan ini. Bagi saya, ini sangat berharga. Sehingga saya mendokumentasikan setiap pesan dan kesan tersebut. Terimakasih pula kepada seluruh etoser yang telah memberi pesan kesannya. Total ada 29 lembar. Pesan dan Kesan yang menakjubkan. Meski ada yang kontradiksi. hehe. Sayangnya Reski (Ketua Despro), Sarjan (Kordinator Ekonomi), dan Yahya Adam (etoser favorit saya) tak dapat menuliskan pesan dan kes...