Langsung ke konten utama

Postingan

Nipah Mall Hapuskan Peradaban Semu

Kemasan sensasional membalut kemegahan dan keramahtamahan. Tak ada kata gelap, yang ada ialah cahaya yang terus menyorot. Tak ada kata lusuh, yang ada selalu bersih dan rapi. Tak ada kata panas terik, yang ada sejuk nan nyaman. Tak ada ekspresi marah, yang ada kebahagiaan dan senyum yang senantiasa tersaji dari pojok ke pojok. Dibalik layar, ada pencemaran lingkungan yang mengakselerasi pemanasan global. Dibalik layar, ada krisis energi yang senantiasa memaksa negeri kita impor. Dibalik layar, mereka yang berperan senantiasa risih dengan simpul senyum yang harus terus tersaji. Meski penat dan lelah dengan tuntutan tingkah kaku yang berlabel SOP. Begitulah peradaban Mall yang menyajikan peradaban semu. Potret individualisme dalam balutan kapitalisme. Memperluas jarak antara tradisional dan modern, hingga memperluas kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya. Permasalahan yang kompleks ini akhirnya terjawab dengan hadirnya Mall Nipah. Green Building pertama di Indonesia Ti...
Postingan terbaru

Memaknai Sesi Pesan dan Kesan untuk Despro

Sebagai mahasiswa Statistika, saya mencoba memetakan dan mengukur frekuensi dari 29 pesan dan kesan yang ada. Selanjutnya, saya akan coba menjelaskan lebih lanjut terkait klarifikasi dan tanggapan. Sebagai bentuk jawaban dari permintaan perhatian, evaluasi dan komunikasi dari pesan dan kesan yang ada. Inilah salah satu bentuk perhatian, evaluasi dan komunikasi yang saya berikan. Selamat Menikmati. Sebelumnya, saya ingin menyampaikan Terimakasih kepada mbak Umu dari Manajemen Pusat Beastudi Etos yang telah banyak memberi masukan dan saran. Termasuk dengan memfasilitasi sesi pesan dan kesan ini. Bagi saya, ini sangat berharga. Sehingga saya mendokumentasikan setiap pesan dan kesan tersebut. Terimakasih pula kepada seluruh etoser yang telah memberi pesan kesannya. Total ada 29 lembar. Pesan dan Kesan yang menakjubkan. Meski ada yang kontradiksi. hehe. Sayangnya Reski (Ketua Despro), Sarjan (Kordinator Ekonomi), dan Yahya Adam (etoser favorit saya) tak dapat menuliskan pesan dan kes...

Jika Erdogan Memimpin Indonesia

Salah satu pembinaan subuh yang mengangkat tema “Meneladani Kepemimpinan Erdogan” berlangsung sangat menarik dan mengandung hikmah yang patut kita cermati lebih dalam. Pembinaan dipandu oleh Muh. Fajrul salah satu etoser dari Jurusan Akuntansi, angkatan 2017. Pemaparannya cukup baik meski harus sesekali melihat referensi materi dari smartphone nya. Sesi kemudian berujung pada sesi tanya jawab yang menggugah. Latarbelakang keilmuan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadikan Fajrul lebih banyak membahas kebijakan ekonomi Erdogan sebagai pemimpin negara. Mulai dari pembatasan impor, pengenaan pajak lebih tinggi untuk barang impor hingga mendorong produksi dalam negeri. Alhasil, pertumbuhan ekonomi Turki yang dahulunya biasa saja, kini telah menjadi salah satu yang tercepat di dunia. Tahun lalu meningkat 7,4 bahkan sempat mencapai lebih dari 11 persen. Dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Salah satu kekuatan ekonomi yang sangat disegani di dunia saat ini, meski haru...

Asrama dan Presiden Kita

Sejarah mengajarkan kita tentang Asrama merupakan wadah strategis yang mampu mendidik pemimpin yang berpengaruh di Indonesia bahkan Dunia. Sebut saja Tokoh Proklamator Republik Indonesia yang sekaligus Presiden Pertama, Ir Soekarno yang akrab disapa Bung Karno. Beliau ditempa dalam asrama yang disebut Rumah Pergerakan oleh Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang disebut juga dengan Guru Bangsa. Rumah kecil di Paneleh tersebut bahkan melahirkan tokoh-tokoh lain seperti Semaoen, Kartosoewirdjo, dll. Di balik loteng rumah, bung karno berlatih untuk berpidato setiap pagi, sore dan malam hari. Hasilnya luar biasa, kita sampai saat ini selalu kagum dengan pidato-pidato bung Karno yang membara dan mampu menyentuh hati dan menggerakkan para pendengarnya. Itulah yang juga menghadirkan rasa menyenangkan sekaligus membanggakan jika mendengarkan adik-adik di asrama menghafal teks pidato atau presentasi karya tulis di kamarnya. Semoga harapannya bukan hanya untuk memperoleh nilai semata, namun u...

Persatuan Islam dari Kampus Merah

Refleksi Gerakan Unhas Mengaji dan Shalat Berjamaah Polarisasi kelompok dan gerakan keislaman yang beranekaragam merupakan hal yang sangat familiar dengan perkembangan Islam di Indonesia. Hal tersebut tercermin dengan hadirnya berbagai organisasi keIslaman dengan latarbelakang yang beragam . Mulai dari Islam santri , Islam tradisonalis, Islam modernis, Islam Skripturalis, Islam subtantif, Islam militan, Islam nasionalis, Islam nusantara dan masih banyak lagi. Polarisasi kelompok dan gerakan keislaman semakin mengokohkan eksistensinya dengan menguatkan basis masing-masing melalui berbagai lembaga sayap yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Eksklusivisme dari masing-masing kelompok juga semakin mengakar dengan terbatasnya ruang berinteraksi untuk membangun titik temu. Beragamnya pemahaman dan penghayatan tentang Islam menjadi alasan tentang keanekaragaman kelompok dan gerakan keislaman yang hadir. Namun hal tersebut rentan menjadi sebuah ancaman dalam...

Maju Tambasanya, Bahagia Etosernya

" Kita terlalu jauh mencari cahaya, namun ternyata cahaya itu begitu dekat; Cahaya itu selalu bersama kita, di dalam diri Kita " (Kartini, 1902) Kutipan dari Buku Habis Gelap, Terbitlah Terang ini patut menjadi perhatian khusus bagi kita. Orang-orang yang telah tergerak untuk mengabdi ataupun belum. Karena sejatinya, kita akan memperoleh titik kesadaran untuk mengabdi dan berbuat lebih banyak untuk orang lain. Namun yang membedakan, ada yang cepat, ada yang lambat. Ada pula yang keburu wafat terdahulu. Kita bebas ingin memilih berada di posisi mana. Tapi bagi peserta Beastudi Etos Indonesia, kita dipaksa untuk sadar dan peka dengan tagline "Pemuda Kontributifnya". Harapannya terpaksa, menjadikannya terbiasa. Pagi ini pembinaan pagi yang menjadi rutinitas Beastudi Etos terasa spesial karena khusus  membahas Desa Produktif. Temanya " 5 Tahun Tambasa, Tidak ada perubahan ". Dari diskusi yang berlangsung, lahir tiga permasalahan utama terkait pengabdian...

Tambasa Menuju Desa Dunia

Rutinitas membunuh Sensitivitas. Begitulah pesan bijak kepada kita untuk memaknai lebih dalam tentang rutinitas. Kini pesan itu berlanjut menjadi rutinitas membunuh kreativitas. Hal yang patut menjadi perhatian kita sebagai orang yang bergelut dengan rutinitas sehingga kita lupa untuk sensitif. Sehingga kita lupa untuk lebih kreatif dan berinovasi. Era kedepan adalah era untuk orang-orang yang mampu berkreasi dan berinovasi. Apapun kondisi yang ada. Itulah yang menjadi tugas kita hari ini. Jika tidak, bersiap saja menjadi punah ataupun hilang ditelan zaman. Begitulah dengan potret kita dan desa kita hari ini. Desa Tambasa yang menjadi tanah kita lahir ataupun beraktivitas hari ini. Apakah desa ini hanya  tetap menjadi desa yang termarjinalkan, desa yang maju atau bahkan bisa saja menjadi punah. Jawabannya ada pada Kita. Apakah kita cukup Sensitif, kreatif dan inovatif untuk mengembangkan Desa ini. Atau kita hanya larut dalam rutinitas untuk hidup dan berkembang disini denga...