Langsung ke konten utama

Persatuan Islam dari Kampus Merah


Refleksi Gerakan Unhas Mengaji dan Shalat Berjamaah

Polarisasi kelompok dan gerakan keislaman yang beranekaragam merupakan hal yang sangat familiar dengan perkembangan Islam di Indonesia. Hal tersebut tercermin dengan hadirnya berbagai organisasi keIslaman dengan latarbelakang yang beragam. Mulai dari Islam santri, Islam tradisonalis, Islam modernis, Islam Skripturalis, Islam subtantif, Islam militan, Islam nasionalis, Islam nusantara dan masih banyak lagi.
Polarisasi kelompok dan gerakan keislaman semakin mengokohkan eksistensinya dengan menguatkan basis masing-masing melalui berbagai lembaga sayap yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Eksklusivisme dari masing-masing kelompok juga semakin mengakar dengan terbatasnya ruang berinteraksi untuk membangun titik temu.
Beragamnya pemahaman dan penghayatan tentang Islam menjadi alasan tentang keanekaragaman kelompok dan gerakan keislaman yang hadir. Namun hal tersebut rentan menjadi sebuah ancaman dalam perwujudan Islam sebagai soko guru peradaban dengan menghadirkan rahmat bagi sekalian alam. Ketika lahir jarak dan perpecahan diantara kelompok muslim yang disebabkan ego sektoral dengan merasa paling benar, paling berpengaruh hingga paling mayoritas.
Contoh yang masih hangat di ingatan kita ialah adanya pembubaran paksa sebuah pengajian yang dilaksanakan organisasi muslim yang satu oleh organisasi muslim yang lainnya. Inilah salah satu fenomena keberagaman yang tidak mampu disikapi denga bijak. Hingga akhirnya merusak citra Islam sendiri sebagai agama yang mengedepankan nilai-nilai positif. Seperti keadilan, kasih sayang, kebijaksanaan, dan lain-lain.
Oleh karena itu, sangat penting untuk menghadirkan sebuah solusi ketika polarisasi kelompok dan gerakan keislaman yang semakin mengakar tersebut telah menjelma sebagai momentum konflik bagi umat Islam.
Momentum Bersatu
Solusi dalam mewujudkan persatuan Islam yang hadir ialah melalui berbagai upaya dalam membangun komunikasi yang efektif antar gerakan dalam membangun titik temu. Salah satu yang patut diapresiasi ialah program monumental Gerakan Unhas Mengaji dan Sholat Berjamaah (GUMSB) yang telah diluncurkan Prof. Dr. Hj. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. selaku Rektor Universitas Hasanuddin. Program ini merupakan sebuah program yang inovatif dalam membentuk karakter Mahasiswa serta sebuah momentum untuk mewujudkan persatuan Islam dari Kampus Merah. Prof Dwia juga menegaskan bahwa kegiatan ini dapat mencerdaskan hati dan mendekatkan mahasiswa kepada Allah swt. Sehingga dapat melengkapi berbagai pelajaran di kampus yang cenderung menyentuh aspek duniawi saja.
Prof Dwia yang juga merupakan Guru Besar Sosiologi Universitas Hasanuddin pernah menulis sebuah buku tentang “Menonton Pertarungan Manusia Tikus” yang mengangkat tentang realitas berbagai konflik sosial yang hadir di masyarakat. Bahkan dalam disertasinya, beliau mengangkat gagasan mengenai Resolusi Konflik di sebuah daerah di Sulawesi Selatan. Hal ini semakin menguatkan bahwa Rektor Universitas Hasanuddin merupakan orang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang penyelesaian konflik.
Pengetahuan dan pemahaman tersebut tentu merupakan landasan yang penting dalam berbagai kebijakan yang beliau hadirkan. Salah satunya Gerakan Uhnas Mengaji dan Sholat Berjamaah. Gerakan yang selain akan meningkatkan intensitas beribadah civitas akademika, juga sekaligus akan meningkatkan ruang komunikasi efektif yang terbangun dari berbagai kelompok dan organisasi keislaman yang hadir di Universitas Hasanuddin. Alhasil, berbagai program produktif dan positif lainnya akan dapat semakin berkembang.
Solusi ini sejalan dengan teori yang dikemukakan Collins, seorang ahli sosiologi yang menjelaskan bahwa konflik lebih berakar pada masalah individual karena akar toretisnya lebih pada fenomenologis dan etnometodologi. Dia lebih memilih konflik sebagai fokus berdasarkan landasan yang realistik. Sehingga konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, klasifikasi dari penyebab utama hadirnya konflik ialah perbedaan sikap, kepercayaan, nilai-nilai, serta kebutuhan yang diperparah dengan kurangnya komunikasi dan kepemimpinan yang kurang efektif.
Hadirnya program bersama yang mampu mendorong terwujudnya sinergi dan titik temu dalam mengembangkan karakter Mahahasiswa dengan nafas keislaman merupakan hal penting untuk kita dukung bersama. Penguatan peran kampus yang notabene merupakan miniatur sebuah negara sebagai wadah menciptakan tatanan masyarakat yang ideal tentunya menjadi harapan semua pihak. Terlebih lagi Universitas Hasanuddin yang tercatat sebagai Universitas terbaik di Indonesia Timur yang sudah sepatutnya memberikan keteladanan dan inspirasi bagi kampus lain dalam melahirkan Mahasiswa dengan jati diri yang ideal.
Sebagaimana yang dikemukakan salah satu founding peoples Negeri kita, Ir. Soekarno (1958) dalam Kuliah umum di Universitas Pajajaran, bahwa “Universitas adalah tempat untuk memahirkan diri kita, bukan saja di lapangan technical and managerial know how, tetapi juga di lapangan mental, di lapangan cita-cita, di lapangan ideologi, di lapangan pikiran. Jangan sekali-kali universitas menjadi tempat perpecahan”.

Tulisan ini pertama kali dimuat di Koran Harian Amanah Edisi April 2017

Komentar