Langsung ke konten utama

Jika Erdogan Memimpin Indonesia

Salah satu pembinaan subuh yang mengangkat tema “Meneladani Kepemimpinan Erdogan” berlangsung sangat menarik dan mengandung hikmah yang patut kita cermati lebih dalam. Pembinaan dipandu oleh Muh. Fajrul salah satu etoser dari Jurusan Akuntansi, angkatan 2017. Pemaparannya cukup baik meski harus sesekali melihat referensi materi dari smartphonenya. Sesi kemudian berujung pada sesi tanya jawab yang menggugah.
Latarbelakang keilmuan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadikan Fajrul lebih banyak membahas kebijakan ekonomi Erdogan sebagai pemimpin negara. Mulai dari pembatasan impor, pengenaan pajak lebih tinggi untuk barang impor hingga mendorong produksi dalam negeri. Alhasil, pertumbuhan ekonomi Turki yang dahulunya biasa saja, kini telah menjadi salah satu yang tercepat di dunia. Tahun lalu meningkat 7,4 bahkan sempat mencapai lebih dari 11 persen. Dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Salah satu kekuatan ekonomi yang sangat disegani di dunia saat ini, meski harus diserang oleh serangan dolar dan perang dagang yang dilakukan Amerika. 

Tidak hanya keberhasilan dari segi ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga stabilitas sosial politik menjadi keberhasilan yang gemilang dari erdogan dan kepemimpinannya. Islamophobia yang mengubah Turki menjadi Negara Sekuler setelah runtuhnya kekhalifaan Utsmani kini telah diminamilisir. Islam sebagai agama mayoritas mampu dipeluk dengan percaya diri dan penuh kebanggaan oleh para ummatnya. Tidak lagi harus diselimuti ketakutan seperti sebelum kepemimpinan Erdogan. Dimana mengenakan jilbab dan mengumandangkan adzan harus dilarang. 

Sesi tanya jawab tiba. Sebagaimana biasanya, sesi ini selalu memantik antusias dari etoser lainnya. Dari sebelas peserta, enam diantaranya bertanya. Namun diantara beragam pertanyaan tersebut. Pertanyaan terakhir yang paling memukau. Paling mengasah nalar. Pemberi pertanyaan tersebut juga bukan merupakan etoser biasa. Dialah etoser favorit versi saya, Yahya Adam namanya. (Alasan mengapa beliau jadi etoser favorit, simak di artikel lainnya yang akan segera launching) hehe

Bunyi pertanyaannya adalah “Seandainya Erdogan bisa menjadi presiden di Indonesia, apakah ia mampu mewujudkan keberhasilan kepemimpinan seperti yang telah dilakukannya di Turki ? Pasalnya menurut Yahya, beberapa kebijakan Erdogan mengenai pembatasan impor dan lain-lain telah diterapkan di Indonesia. Pertanyaan yang dilontarkan dengan senyum malu-malu khas Yahya disambut tawa hangat dari forum. Salah satu etoser yang bertindak sebagai moderator, Muh. Reski yang merupakan mahasiswa Hukum langsung menjawab bahwa dalam perspektif konstitusi kita, hal tersebut adalah mustahil. Pasalnya undang-undang mengatur bahwa Presiden Republik Indonesia harus merupakan Warga Negara Asli. Bukan warga produk naturalisasi layaknya beberapa pemain Tim Nasional sepakbola kita. Namun jika seandainya itu dapat terjadi sesuai logika yang diajukan Yahya, Apakah dampaknya akan signifikan jika Erdogan memimpin Indonesia ? 

Fajrul menjawab dengan tegas bahwa Jika Erdogan memimpin Indonesia, maka kemajuan seperti di Turki juga dapat terwujud. Kebijakan impor di Indonesia saat ini masih timpang dalam neraca ekspor impor. Kita masih lebih banyak mengimpor daripada mengekspor produk dalam negeri. Komoditi ekspor kita tiap tahunnya bahkan menurun variasinya. Hal ini diperparah dengan data bahwa mayoritas produk ekspor kita hanyalah bahan mentah yang minim nilai tambah. Dilema kepemimpinan negeri kita saat ini. 

Perspektif lain yang coba diajukan fajrul ialah terkait kepemimpinan yang harus ditopang oleh masyarakat yang mampu mengelola potensi yang ada di Indonesia. Hal inilah yang kemudian saya coba jelaskan lebih lanjut agar etoser sadar bahwa mentalitas masyarakat adalah salah satu poin penting dalam mewujudkan sebuah kemajuan. Sekaligus memanfaatkan moment ini untuk menyentil mentalitas terjajah ala etoser (Penjelasan lebih lanjut mengenai mentalitas terjajah etoser akan dijelaskan di artikel lainnya yang juga akan segera launching) hehe

 Jika menarik latarbelakang sejarah kedua negara, kita akan menemukan fakta bahwa sejarah Turki adalah sejarah peradaban. Mulai dari era Kekaisaran Binzantium selama 1.147 tahun (306-1453 M) dilanjut dengan peradaban Islam, Kekhalifaan Utsmani lebih dari 600 tahun (1299-1923 M). Menilik sejarah Indonesia yang meski sempat maju dengan peradaban kerajaan nusantara, namun sejak penjelajahan VOC beserta dominasi dagang yang dilakukannya, kita terlahir kembali sebagai Negeri terjajah. Mulai dari koalisi spanyol dan portugis, Inggris, VOC, Belanda hingga Jepang menginjakkan kakinya dengan penjajahan berkedok penguasaan sistem perdagangan yang terakumulasi hingga 438 tahun (1511 - 1948). Alhasil, lahirlah mentalitas terjajah mayoritas masyarakat Indonesia yang terwariskan hingga saat ini. 

Mentalitas yang menjadikan Negeri berkembang ini sulit untuk bertransformasi menjadi Negeri yang maju. Siapapun pemimpinnya. Kita hanya akan terpaku pada kesuksesan di sebahagian sektor namun tertinggal di sektor lainnya. Kepemimpinan Kolektif yang merupakan akumulasi dari kesadaran untuk maju bersama menjadi hal yang harus diwujudkan kedepannya. Kuncinya adalah kecerdasan kolektif yang harus lahir dari setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Disanalah peran kita untuk mewujudkan #CitaTertinggi kita bersama.

 Miskin inisiatif, mudah putus asa, mudah diadu domba, tidak mampu membangun komunikasi yang baik, tidak mampu mewujudkan basis persatuan, egoisme, mudah menyalahkan orang lain tanpa sadar kesalahan terbesar ada dalam dirinya hingga lebih senang menjadi penonton dengan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak produktif. Berbagai indikasi mentalitas terjajah tersebut sayangnya masih mewabah dan menjangkit pula kedalam diri sebahagian etoser. Mungkin juga kedalam diri penulis dan manajemen etos secara umum. 

 Bantu saya untuk menemukan solusinya. Silahkan kemukakan pandangan kamu tentang solusi yang dapat kita lakukan di kolom komentar. Tiga jawaban yang inovatif dan kreatif akan saya berikan kesempatan memilih hadiah spesial dari Paris Van Java, Bandung.

Komentar

  1. Tema ini sangat menarik untuk diulas, dan pertanyaan yang dilontarkan juga sangat sesuai dengan problematika kita sekarang.

    Tema yang mempermasalahkan terkait mentalitas yang terjajah ini sudah pernah saya kaji bersama teman-teman Agribisnis'17 Unhas pada saat proses pengkaderan LK2M (Latihan Kepemimpinan dan Keprofesian) Misekta.

    Disini, Mental Inlander” yang sekirannya cocok sebagai sebutan mental kaum terjajah. “Inlander” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “Pribumi” atau “Masyarakat asli’.

    Indonesia yang kurang lebih 350 tahun bangsa kita dijajah oleh belanda, dengan adanya penjajahan yang begitu lama tidak menutup kemungkinan tidak meninggalkan jejak mental yang telah terpatri bahkan telah menjadi watak dan karakter bangsa yang sering ditampilkan sebagai watak kaum terjajah.

    Belanda yang selalu melakukan doktrin bahwa warga pribumi merupakan bangsa yang bodoh dan hanya pantas menjadi budak belanda, bangsa yang selalu duduk dibelakang karena tidak penting kehadirannya saat acara-acara besar diselengggarakan oleh Pemerintah Belanda.

    Hal tersebutlah memberikan tekanan mental tersendiri yang sampai sekarang menjadi bangsa yang biasa disebutnya “Bangsa Inlander”.

    Wujud dari sindrom mental inlander inilah yang membuat bangsa kita tidak percaya diri, tidak yakin dengan kemampuan sendiri, selalu menganggap bangsa lain lebih unggul, lebih bagus, lebih berpengalaman, lebih pintar, dan lebih segala-galanya

    Solusi yang saya tanamkan atau yang dapat saya berikan untuk maju ialah yakni merespon ataupun mengikuti jejak mereka, meniru apa yang mereka lakukan dan mengimplementasikan yang sekiranya baik yang sudah mereka buktikan. Dengan demikian kita tidak mampu membaca keunggulan dan potensi yang benar-benar milik kita sendiri, sehingga karakter "Bangsa Inlander" tersebut semakin terkikis dengan adanya perubahan pola pemikiran kita yang selamanya terjajah menjadi menjajah.

    Sekian

    BalasHapus
  2. Mudah saja memahami tentang kekuasaan menurut berbagai perspektif. Akan tetapi lain halnya dengan menuntut diri kita mengetahui banyak tentang sejarah kepemimpinan masa lalu. Dimana kekuasaan memang menjadi point utama para kaum serakah ( bahasa saya sendiri hehehe). Tapi ketika melihat pada kejayaan Islam bukankah budaya itu selalu di contohkan dalam barisan shaff. Sederhananya kita bisa menerapkan hal itu di dalam kehidupan di masyarakat. Dimana ketika kita sadar untuk merapatkan barisan dan mengikuti apa kata imam ( pemimpin) yang kita pilih sebagai orang yang benar benar bisa memimpin dalam rokaat sholat, akan terwujud kesinambungan sholat yang khusyuk. Kalaupun ada yang berbeda pasti dia lah yang akan merasa salah. Bukan begitu?
    Entahlah, tapi sampai sekarang saya masih setuju dengan sesederhana meniru kuatnya sholat berjamaah akan membawa kebaikan didalam kehidupan bermasyarakat. ( Pengaplikasiannya)


    Terimakasih atas tulisan yang memicu nafsu menulis saya. Hehehehe. Good job.

    BalasHapus
  3. Dalam suatu referensi kajian transformasi sosio-kultural masyarakat Bugis-Makassar dijelaskan bahwa mentalitas kelemah-adab-karsaan yg menggerogoti masyarakat Bugis-Makassar bukan konsekuen dari penjajahan yg dilakukan oleh bangsa asing yg dtg ke nusantara pada masa itu. Melainkan hanya sebuah akumulasi dari kehidupan masa lampau masyarakat Bugis-Makassar. Padahal masyarakat Bugis-Makassar dikenal sebagai bangsa yang berani dan pekerja keras. Hanya saja kekuat-karsa (kerja keras) belum dibarengi dengan iman. Kerja keras yg dilakukan pada saat itu belum utk tujuan ilahia. Namun, ketika islam sudah mulai menyebar/masuk ke dalam nilai Bugis-Makassar banyak dari masyarakat tersebut mulai menurun kerja kerasnya dgn dalil hidup utk mengejar akhirat atau bekerja secukupnya utk makan dan bisa kembali beribadah (sprt yg dilakukan sufi). Ditambah datangnya bangsa asing yg memaksa masyarakat tunduk dgn aturan yg dibuat dan menguntungkan bangsa penjajah. Melemahkan mental adab dan karsa masyarakat Bugis-Makassar.
    Sekarang, sprti yg telah dijelaskan penulis di atas, masyarakat Indonesia pada umumnya masih bermental terjajah, kesadaran terbangun atas kondisi sosial bukan sebaliknya (karl marx).
    Suasana desa tak perlu dipoles seperti kota dgn kemilau kerlap kerlip lampu atau berbagai polusi (asap kendaraan, kebisingan mesin2, atau polusi cahaya). Membangun kesadaran bukan atas tuntutan ekonomi, tetapi membangun perkonomian/kesejahteraan atas kesadaran dan kolektif. Klo membangun hanya utk dijajah/ditindas, tidak lebih hanya menerapkan hukum rimba. Dibutuhkan pemimpin yg mampu membangun bukan hanya fisik tetapi juga bathin/mental. Pemimpin yang mampu men-drive rakyatnya utk membangun mentalitas kuat adab dan karsanya.

    BalasHapus
  4. Menurut saya, siapa pun yang memimpin indonesia sangat susah untuk membawa bangsa ini menjadi seperti negara turki maupun negara maju lainnya dalam waktu yang singkat. Mengapa? Alasannya adalah negara indonesia adalah negara yang sangat unik di dunia ini, tidak ada satupun negara di dunia ini yang mampu menandingi keunikan bangsa kita tercinta ini.
    Bagaimana mungkin kita akan membandingkan perekonomian bangsa kita ini dengan negara maju seperti singapura yang luas wilayahnya hanya nol koma sekian persen dari wilayah indonesia. Diibaratkan seorang ibu yang mengasuh seorang anak dan seorang ibu yang mengasuh 100 anak. Mingkin seperti itulah perbandingannya.

    Bagaimana mingkin kita akan membandingkan bangsa kita ini dengan negara maju seperti amerika, yang bukan merupakan negara kepulauan seperti negara kita ini yang memiliki beribu2 pulau. Dimana akses untuk ke daerah daerah pulau cukup sulit. Sehingga untuk mengurusi bangsa kepulauan jauh lebih sulit dibandikan bangsa non kepulauan.

    Lantas bagaimana dengan negara turki apakah keberhasilan erdogan dalam memimpin negara ini bisa dibandikan dengan kemajuan perkembangan yang ada di indonesia. Kalau kita melihat, ada banyak perbedaan dari kedua negara ini, dimulai dari luas wilayah. Dimana wilayah indonesia jauh lebih luas dibanding turki. kepulauan, dimana negara indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. kesadaran masyarakatnya, dimana kesadaran masyarakat di turki jauh lebih besar dibanding di masyarakat indonesia, terbukti masyarakat turki selalu mendukung kebijakan dari pemimpinnya, berbeda dengan masyakarat di indonesia yang masih sangat banyak menggunkan kesadaran naif dalam mendukung segala kebijakan pemerintah. hingga sisitem pemerintahannya yang sangat berbeda, dimana turki menganut sistem khilafah an sedangkan indonesia menganut sistem parlementer. Yang notabennya sangat jauh berbeda.

    Jadi sebagai kesimpulan, meskipun erdogant yang memimpin bangsa ini, akan sangat susah untuk membawa bangsa indonesia seperti turki dalam waktu yg singkat seperti terjadi di turki. Dikarnakan negara indonesia merupakan negara yang unik. Banyak perbedaan2 antara negara indonesia dengan negara lainnya.
    Negara indon

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu banyak belajar lagi. Sistem pemerintahan Turki itu Presidensial, sama dengan Indonesia. Sebelum 2017, malah parlementer. Sistem kekhilafaan telah usai sejak 1923.

      Kalau soal luas wilayah dan kepadatan penduduk, Cina, Amerika, India bahkan bahkan lebih luas dan padat. Namun mereka mampu jauh lebih maju dari Indonesia

      Hapus

Posting Komentar