Sebagai mahasiswa Statistika, saya mencoba memetakan dan mengukur frekuensi dari 29 pesan dan kesan yang ada. Selanjutnya, saya akan coba menjelaskan lebih lanjut terkait klarifikasi dan tanggapan. Sebagai bentuk jawaban dari permintaan perhatian, evaluasi dan komunikasi dari pesan dan kesan yang ada. Inilah salah satu bentuk perhatian, evaluasi dan komunikasi yang saya berikan. Selamat Menikmati.
Sebelumnya, saya ingin menyampaikan Terimakasih kepada mbak Umu dari Manajemen Pusat Beastudi Etos yang telah banyak memberi masukan dan saran. Termasuk dengan memfasilitasi sesi pesan dan kesan ini. Bagi saya, ini sangat berharga. Sehingga saya mendokumentasikan setiap pesan dan kesan tersebut.
Sebelumnya, saya ingin menyampaikan Terimakasih kepada mbak Umu dari Manajemen Pusat Beastudi Etos yang telah banyak memberi masukan dan saran. Termasuk dengan memfasilitasi sesi pesan dan kesan ini. Bagi saya, ini sangat berharga. Sehingga saya mendokumentasikan setiap pesan dan kesan tersebut.

Terimakasih pula kepada seluruh etoser yang telah memberi pesan kesannya. Total ada 29 lembar. Pesan dan Kesan yang menakjubkan. Meski ada yang kontradiksi. hehe. Sayangnya Reski (Ketua Despro), Sarjan (Kordinator Ekonomi), dan Yahya Adam (etoser favorit saya) tak dapat menuliskan pesan dan kesannya meski hadir monev. Karena ketika sesi tersebut, mereka izin. Namun kedepan, saya akan coba mendalami secara lisan. Sehingga bisa lebih jelas.
Saya sangat menghargai metode ini. Kaya hikmah dan interpretasi dari pesan yang diberikan. Namun saran saya, kedepan pesan dan kesannya ditulis saja nama pengirim atau inisial secara langsung. Agar setiap pemberi pesan mampu lebih bertanggung jawab terhadap apa yang dituliskan. Penerima pesanpun akan mampu lebih menyadari dan menelusuri terkait substansi masing-masing pesan yang diberikan. Terkait kekhawatiran bahwa ada yang malu-malu, sungkan, hingga minder dan takut. Itu perlu disingkirkan sejauh-jauhnya. Bukan malah dengan pembiaran atau dirawat dengan kedok bersembunyi dibalik tinta.
Jika ini terus berlanjut, maka mentalitas lemah akan menjadi kebiasaan. Keberanian dan tanggung jawab akan semakin menakutkan. Sama seperti beberapa pekan lalu. Saya mengarahkan Etoser yang cukup berumur untuk maju sebagai calon ketua sebuah lembaga. Hanya sekadar “calon ketua” untuk menguji adu visi dan gagasan. Termasuk mentalitas kepemimpinan dan bentuk kepedulian terhadap lembaga. Sebagai buah dari pembinaan etos selama ini. Namun sayangnya, jauh panggang dari api. Pembinaan etos masih belum menemukan titik capaiannya.
Bukankah kita dididik dengan profil “Pemuda Kontributif” ? Profil yang mencakup Pemimpin, Mandiri, Unggul hingga Kontributif. Profil yang bermakna siap untuk bertanggung jawab dan mengambil peran lebih untuk kebermanfaatan yang lebih baik dan lebih luas. Begitulah seyogyanya kita. Harus lebih berani dan menyingkirkan mentalitas malu-malu, sungkan, hingga minder dan penakut.
Di suatu forum Pertanggungjawaban tahun 2015, saya sebagai Ketua Koperasi Mahasiswa Unhas periode tersebut, dihadapkan pada tudingan langsung sebagai orang yang korupsi. Tudingan yang sangat rawan dalam lembaga yang mengelola dana ratusan juta tersebut. Konsekuensinya adalah harus mengganti dana yang dianggap dikorupsi tersebut. Padahal di sisi lain, saya dan pengurus telah mengupayakan pengelolaan yang profesional. Tudingan tersebut ternyata telah menjadi buah bibir berpekan-pekan dari senior dan akhirnya berujung pada tudingan dan pembuktian langsung di forum.
Di suatu forum Pertanggungjawaban tahun 2015, saya sebagai Ketua Koperasi Mahasiswa Unhas periode tersebut, dihadapkan pada tudingan langsung sebagai orang yang korupsi. Tudingan yang sangat rawan dalam lembaga yang mengelola dana ratusan juta tersebut. Konsekuensinya adalah harus mengganti dana yang dianggap dikorupsi tersebut. Padahal di sisi lain, saya dan pengurus telah mengupayakan pengelolaan yang profesional. Tudingan tersebut ternyata telah menjadi buah bibir berpekan-pekan dari senior dan akhirnya berujung pada tudingan dan pembuktian langsung di forum.
Penjelasan dan pembuktian tandinganpun kami berikan. Hingga stigma negatif tersebut mampu terjawab. Ternyata penyebabnya adalah kekeliruan dalam pencatatan dan komunikasi yang terjalin antara pengurus dan anggota.
Begitulah satu gambaran yang bisa saja teman-teman akan dapatkan di lapangan organisasi. Dinamika dan keberagaman yang menuntut kita harus lebih berani dan bertanggungjawab. Itu baru di Lembaga Mahasiswa.
Belum lagi di dunia pasca kampus dan masyarakat umum. Keberanian dan Tanggung jawab sangat diharapkan dari kita semua.
Para Nabi, Rasulullah, para sahabat hingga para ulama telah menunjukkan kita teladan yang luar biasa. Ada nabi dicap tukang sihir, Rasulullah bahkan dicap tukang bohong dan Gila, hingga Buya Hamka, Ulama Penulis Tafsir Al Azhar pernah dicap Kyai Cabul oleh golongan Kyai Tua di Minangkabau. Tudingan yang sangat miris. Namun begitulah dinamika yang dapat terjadi dalam persepsi publik. Sehingga kita benar-benar harus mempersiapkan diri dan memaknai profil Pemuda Kontributif sebagai orang yang siap larut dan mewarnai larutan negatif tersebut. Sehingga mampu lebih positif.
Itulah mengapa, saya sangat menyukai pesan dan kesan yang membangun. Pesan dan Kesan yang siap bertanggungjawab. Dari semua etoser, ternyata hanya ada 1 yang berani menuliskan namanya. Sebagai apresiasi, saya berikan 1 buku favorit saya. Selamat dinda Fauzi (Eighteen ji. Hehe).
Meski setelah saya telusuri, ternyata yang menuliskan nama Fauzi adalah orang lain. Namun itulah rezeki Fauzi. Sejak pertama saya baca, itulah pesan dan kesan favorit saya. Dan saya sudah terlanjur janji memberinya hadiah kepada nama yang tertuliskan. Selamat kembali kepada dinda Fauzi.
Tulisan berlanjut di jilid 2. See u ^,^


Komentar
Posting Komentar