Langsung ke konten utama

Asrama dan Presiden Kita

Sejarah mengajarkan kita tentang Asrama merupakan wadah strategis yang mampu mendidik pemimpin yang berpengaruh di Indonesia bahkan Dunia. Sebut saja Tokoh Proklamator Republik Indonesia yang sekaligus Presiden Pertama, Ir Soekarno yang akrab disapa Bung Karno. Beliau ditempa dalam asrama yang disebut Rumah Pergerakan oleh Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang disebut juga dengan Guru Bangsa. Rumah kecil di Paneleh tersebut bahkan melahirkan tokoh-tokoh lain seperti Semaoen, Kartosoewirdjo, dll. Di balik loteng rumah, bung karno berlatih untuk berpidato setiap pagi, sore dan malam hari. Hasilnya luar biasa, kita sampai saat ini selalu kagum dengan pidato-pidato bung Karno yang membara dan mampu menyentuh hati dan menggerakkan para pendengarnya. Itulah yang juga menghadirkan rasa menyenangkan sekaligus membanggakan jika mendengarkan adik-adik di asrama menghafal teks pidato atau presentasi karya tulis di kamarnya. Semoga harapannya bukan hanya untuk memperoleh nilai semata, namun untuk benar-benar mampu menyajikan orasi yang mampu menyentuh hati dan menggerakkan seperti presiden pertama kita.
Selanjutnya Jenderal Soeharto, mencatatkan nama sebagai kader lulusan terbaik dari Asrama Militer yang mampu membentuk karakternya hingga mampu menjadi presiden terawet di Republik ini. 32 tahun berkuasa dengan konsep pembangunan dimana-mana dan swasembada pangan yang diwujudkannya merupakan prestasi besar yang dapat dicatat dan belum mampu tertandingi oleh presiden lainnya hingga saat ini. Disebut juga sebagai “The Smiling General” merupakan bukti akan karakternya yang kuat dan mampu tenang dalam berbagai tantangan dan krisis yang melanda negeri ini. Meskipun pada akhirnya gejolak 1998 melengserkan beliau dengan hadirnya ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat  (MPR) yang Memberhentikan beliau sekaligus mengangkat Prof B.J Habibie selaku Presiden selanjutnya .
Prof B. J. Habibie, presiden tersingkat yang hanya 17 bulan atau kurang dari 1,5 tahun memimpin namun tetap kaya prestasi. Mengantar Indonesia membuka kran reformasi dan sekaligus memulihkan kondisi pasca krisis moneter 1998. Beliau putra daerah Sulawesi Selatan yang juga sekaligus membuka kran otonomi daerah menghapus konsep “jawasentris” yang lebih dari 50 tahun berdaya. Dalam riwayatnya, kita mungkin tak menemukan bahwa beliau pernah ditempa di asrama. Namun beliau istimewa karena dibesarkan di Keluarga yang sangat menjunjung tinggi syariat dan nilai-nilai agama. Ayahnya bahkan meninggal dalam posisi sujud ketika sedang memimpin Sholat Maghrib keluarga. Salah satu tanda meninggal dalam keadaan Husnul Hatimah. Inti asrama memang ada pada bagian tersebut. Dimana suasana dan iklim benar-benar dikondisikan untuk membentuk karakter dari para pesertanya dengan berbagai proses yang terjadi disana. 

Selanjutnya Presiden keempat yang berjuluk bapak Pluralisme. Kyai Haji Abdurrahman Wahid. Cucu dari Pendiri Nahdatul Ulama, KH. Hasyim Asyari dan Putra dari Pahlawan Nasional sekaligus Menteri Negara Kabinet Pertama Republik Indonesia, KH. Abdul Wahid Hasyim. Beliau sejak dini besar di kultur pesantren hingga lanjut berkuliah di Universitas Al-Azhar Mesir. Disana beliau tinggal di asrama mahasiswa yang tentunya membentuk karakter keilmuannya yang kuat di tengah keterbatasan yang dimilikinya sebagai seseorang  yang mengalami gannguan penglihatan. Beliau bahkan melanjutkan studinya ke Baghdad, Jerman, Prancis hingga California. Di bawah kepemimpinannya sebagai Presiden, berbagai terobosan dalam hubungan bilateral dan multilateral diwujudkannya. Pada aspek Ekonomi, hingga saat ini tercatat bahwa dalam kepemimpinannyalah terwujud penurunan hutang negara yang sampai saat ini belum pernah terwujud lagi .  
Berbeda dengan KH. Abdurrahman Wahid, presiden selanjutnya Megawati Soekarnoputri yang juga merupakan keturunan tokoh elit bangsa tidak menyelesaikan jenjang kuliahnya di  Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia. Namun jenjang karirnya di politik hingga saat ini masih patut diacungi jempol. Beliau masih merupakan salah satu tokoh berpengaruh di Negeri ini. Bukti keberhasilan dari kluarga strategis yang dipimpin Bung Karno dan istrinya Fatmawati serta iklim aktivis yang dijalaninya. Pada masa kepemimpinannya, Indonesia resmi keluar dari IMF pada tahun 2003 yang berarti lepasnya Indonesia dari masa krisis yang merupakan imbas krisis moneter 1998.
Estafet kepemimpinan Republik Indonesia pasca dipimpin oleh Presiden Pertama Wanita, kembali beralih kepada Tokoh Militer yakni Jenderal (HOR.) TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono GCB AC. Memiliki jejak karir militer hingga pemerintahan yang dapat dikatakan gemilang merupakan bukti dari kehebatan beliau. Stabilitas menjadi kata kunci dalam kepemimpinannya. Melalui deretan karya, prestasi, hingga album yang dirilisnya semakin mengokohkan bukti otentik tentang pengaruh besar yang dimilikinya dan ditempa sejak dini dengan menjadi lulusan terbaik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. 
Kini kita tiba pada Presiden Indonesia ke-7. Butuh banyak riset dan menonton berulang filmnya yang dirilis pada tahun 2013 untuk mengenal beliau lebih dalam. Tokoh yang terkenal dengan gayanya yang merakyat merupakan ciri khas dari Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi. Lulusan dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjahmada ini memang tidak berasrama ketika mahasiswa ataupun sekolah. Namun sama dengan pak Habibie dan Bu Mega, beliau merupakan hasil tempaan keluarga strategis. Meski hanya berprofesi sebagai tukang kayu, ayahnya merupakan guru spiritual yang hebat bagi beliau. Dalam beberapa pidatonya, beliau selalu mengingatkan tentang sosok ayahnya. Bahkan dalam filmnya dijelaskan berbagai pesan dan saran yang sampai saat ini menjadi motto hidup dari pak Jokowi. Salah satu pesan yang paling menyentuh menurut penulis ialah “Yang bisa melahirkan dan membunuh keyakinan adalah diri kita sendiri. Orang lain hanya bisa menambah atau menguranginya. Jadi kita harus selalu memiliki dan menjaga keyakinan itu  dengan sebaik-baiknya”.
Tulisan mengenai sentuhan Asrama dan Presiden ini harapannya mampu menambah semangat dan keyakinan kita untuk berasrama. Terlebih lagi asrama yang memiliki Visi, Rangkaian agenda, Rutinitas yang produktif serta komunikasi yang terjalin dengan hangat. Karena hanya dengan inilah, kita mampu lebih berkembang pesat dan memaksimalkan segala waktu yang ada untuk belajar dari berbagai hal-hal baru yang kita tidak peroleh di rumah. Harapannya kedepan, Tradisi asrama melahirkan Presiden kembali berlanjut dan benar-benar dilahirkan dari asrama kita ini. Oleh karena itu, mari kita berdoa untuk terus istiqomah dan berjuang di jalan ini. Serta mari ucapkan, Selamat tinggal Zona Nyaman. Semoga besok juga tak ada lagiyang mengeluh dengan kepadatan jadwal. Karena jangankan untuk menjadi pemimpin skala negara, skala kabupaten saja. Jadwalnya sudah sangat padat bahkan menghapus rasa ingin tidur karena Visi, Misi dan Program-program yang ingin diraih. Dari sanalah kita belajar manajemen waktu dan Fiqh Prioritas.

Ditulis di Asrama Beastudi Etos Wilayah Makassar.

Komentar

  1. Mantap bung Akbar.. akhirnya terbit juga tulisan tentang 'presiden dan asrama' yang pernah dielukan di Ewako Camp kemarin.. taglinenya berubah jadi #Marimenulis mi kayaknya di👏

    BalasHapus

Posting Komentar